Miris,,?!!
Kemirisan pada Semester Atas
Pagi yang hening
dengan dibaluti kicauan sunyi yang berdatangan. Rasa yang kian berdetak kencang
membuat pikiran tertuju pada satu hal. Akankah hari ini ada harapan buatku
menggapainya ataukah harapan itu telah sirna. Saya melangkah demi langkah yang
tergesa-gesa seakan ingin menjemput harapan itu dan syukur Alhamdulillah harapan
itu ada saya dapatkan ketika mendapati suasana kelas yang sunyi (sedikit
siswa). Kaki terasa dingin seakan
berdiri diatas salju. Tetapi pikiran ini hanya tertuju pada dua hal berusaha
ataukah akan sia-sia. Terdengar ditelinga suara jejak kaki yang melangkah sedemikian rupa dan terasa
semakin dekat disisiku. Setelah beberapa saat terdengar, hati ini mulai
bertaya-tanya, akankah itu suara yang akan menghantarkanku pada apa yang kami
takuti beberapa menit kedepan. Suara itu makin dekat menghampiri, ya itulah
suara yang kami tunggu-tunggu dari tadi. Muncul sosok yang gagah perkasa dengan
gaya rambut yang biasa, memakai setelan jaket (kebiasaaan), dan yang pasti
tidak norak untuk dilihat, dia adalah sosok dosen kami (Syahrui Qodri) dengan
tampang yang seperti itu tapi pengetahuan melebihi penampilan yang seharusnya.
Tiba pada
pertemuan kali ini, kami dihadapkan pada beberapa soal yang diberi oleh dosen tersebut, baiklah ini mungkin awal yang mudah
bagi kami untuk menyelesaikannnya. Suasana kelas menjadi sepi, khusyuk pada
soal masing-masing karena waktu yang diberikan sedikit untuk mengerjakannnya.
Soal demi soal kami teliti dengan seksama, ada juga yang mengerjakannya
asal-asalan disebabkan mungkin ini soal sangatlah mudah untuk dijawab. Ketika
pada pertengahan soal, kami dikejutkan oleh salah seorang teman yang baru
datang dari arah pintu itu, jika dilihat dari kebiasaannya, agak berbeda dari
hari ini dimana anak ini sebenarnya selalu datang awal dan tepat waktu. Pada
hari ini dia telat (senyum malu) dengan
napas yang kencang, semua mata tertuju pada sosok itu, kami menatapnya
dengan pandangan keheranan sekaligus tertawa (dalam hati), ya dia adalah teman
kami (Parmi Andari). Secepat mugkin dia berjalan menuju tempat duduknya dan
dosen langsung mengarahkannya untuk mengambil soal di depan. Mulailah dia
mengerjakannya dengan teliti dan cemas karena dia tahu waktu yang diberikan sedikit.
Kami semua langsung terfokus pada apa yang dipegang masing-masing di depan,
soal yang membutuhkan ketelitian, kejelian mata, dan ketenangan hati (tidak
terkecoh pada suara-suara) membuat kami harus benar-benar konsentrasi
mengerjakannnya. Setelah beberapa menit berlalu, muncul lagi sosok yang membuat
mata kami tertuju pada pintu itu, iya itu adalah teman kami (Samah), ledakan
tawa kecil mulai terdengar pada mulut anak-anak yang lain. Lumrah mungkin kita
tertawa kecil ketika kita medapatkan teman kita terlambat seakan merasa
bersyukur ternyata masih ada orang terlambat pada waktu yang sudah singkat itu.
Waktu yang
diberikan telah usai, tiba saatnya pengoreksian atas hasil kerja kami semua.
Dalam hal ini,kami disuruh untuk memberikan jawaban kami kepada teman dekat
kami duduk, dan begitu cara pengoreksiannya. Soal pertama dikoreksi mulai,
dibacakan soalnya dan kami dengan jawaban masing-masing menyebutkan hasilnya
dengan disertakan alasan yang benar (alasan-alasan kami kadang ada benarnya
kadang ada juga salahnya), alhasil jawaban pertama semua benar. Pembacaan soal demi
soal kami semua telah selesai menjawabnya sekaligus mengoreksinya dengan benar.
Hasil akhir yang didapati sangat miris dari bayangan-bayangan kami semula. Ketika
kami merasa soal itu sudah berada di luar kepala namun nyatanya jawabannnya
juga di luar kepala. Miris bukan,,?! Anak semesrtes akhir mengerjakannya dengan
sebercanda itu, dan mendapatkan hasil dari candaan yang tidak berfaedah.
Penyebutan nilai akhir dimulai oleh dosen kami, masing-masing kami ditanya apakah
ada yang mendapatkan nilai 100 dengan kata lain semua jawabannya benar,
ternyata miris juga. Satu pun dari kami tidak mendapatkannnya. Ada beberapa teman
kami yang dapat hasil dibawah seratus yakni 80, 70, 65, 55, yang membuat kocak
pada cerita ini pada argument teman-teman kami yang mendapatkan nilai yang
sedikit tapi masih bisa tertawa lebar layaknya orang yang tidak bersalah, meremehkan
soal yang mudah itu membuat alis dosen kami naik sekaligus tertawa (kesal)
akibat perbuatan kami. Mahasiswa yang
mengentengkan soal tersebut namanya Iwan Rosidi (kumis tipis, tapi manis).
Sebagai temannya pun saya merasa malu dengan keadaan yang dibuatnya, berbuat
salah tanpa ada rasa penyesalan dan berjanji buat memperbaikinya. Kemirisan
selanjutnya datang pada salah satu teman kami namanya Septiana Eka Lestari yang
mana anak ini bisa dibilang ahli bahasa dalam kelas kami, pertanyaan mengenai
apa pun kalau menyangkut bahasa pasti bisa dijawab dengan sangat baik, tapi
kenapa pada hal ini dia berkata seolah-olah ini tidak ada pengaruh besarnya
pada pembelajaran (maaf ka, ini pendapat saya).
Tidak terasa
waktu pembelajarannya sudah selesai, namun sebelum itu dosen kami memberi kami
sebuah cambukan terakhir “apa iya semester akhir masih belum bisa menulis
dengan baik, dengan soal yang mudah seperti ini saja kalian tidak bisa.
Semisalnya saya bertanya apakah dalam sekali sebulan kalia bisa menghasilkan
bacaan satu novel,,? Kami tidak berani menjawab karena jika kami menjawabnya
pun hasilnya akan lebih miris lagi. Penyebab dari ini semua, karena kalian
kurang baca, jarang ada yang mau menulis untuk mengasah kemapuan menulisnya,
lalu kalian mau jadi apa nanti. Pikirkan itu baik-baik, jangan sampai masa muda
kalia jadi sia-sia suatu kelak nanti”. Semua terdiam seakan-akan perkataannya
tersebut menamparkar kami satu persatu dan rasanya tidak sakit di pipi namun
sakit dan membekas di hati.
Komentar
Posting Komentar