Piagam Gumi Sasak : mengetahui makna dibaliknya
Gumi Sasak merupakan wadah/tempat bagi orang-orang Sasak menggantungkan harapan dan kehidupannya. Di tanah tersebut, orang-orang Sasak melakukan serangkaian proses kehidupan dari generasi ke generasi dan melahirkan bagian-bagian penting yang harus diketahui oleh generasi mudanya. Gumi Sasak lahir dengan proses panjang, beberapa intelektual lombok Sasak melakukan kajian saat ini, yakni tentang realitas budaya Sasak. Dalam proses panjang itu kemudian melahirkan beberapa bentuk dari ekpresi dari budaya Sasak tetapi lebih berkaitan dengan khazanah dan intelektual tanda-tanda peradaban, antara lain yakni pada tahun 2004 bisa melahirkan kalender Rowo Sasak, masjid kuno, masjid adat. Setelah melakukan beberapa pertinmbangan melalui diskusi-diskusi yang dilaksanakan muncullah nama "Piagam Gumi Sasak" yang sebelumnya dinamakan "Manifestasi kebudayaan Sasak" dan pada waktu itu sudah di setujui oleh Dr. Sudirman. Piagam Gumi Sasak ini bertujuan untuk memperbaiki sejarah Sasak yang mana sudah di obrak-abrik oleh kepentingan penguasa dan kebudayaan yang sudah lain dari makna sebenarnya. Isi dari Piagam Gumi Sasak:
Bismillahirrahmanirrahim
Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak diantara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam Gumi Sasak sebagai berikut.
Pertama :
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua :
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga :
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya- karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulud tahun Jimawal/1437H
26 Desember 2015.
Ditandatangani bersama kami,
1. Drs. Lalu Azhar
2. Drs. H. Lalu Mujtahid
3. Drs. Lalu Baiq Windia M. Si.
4. TGH. Ahyar Abduh
5. Drs. H. Husni Mu’adz MA., Ph. D.
6. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
7. Dr. H. Jamaludin M. Ag.
8. Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.
9. Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.
10. Dr. H. Sudirman M. Pd.
11. Dr. H.L., Agus Fathurrahman
12. Mundzirin S.H.
13. L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M. Pd.

Terima kasih informasinya
BalasHapusTerima kasih informasinya
BalasHapusSingkat yg bermakna
BalasHapusSemoga piagam ini bisa diwujudkan oleh masyarakat
BalasHapusMari lestarikan budaya daerah kita.
BalasHapusSalam budaya !
Sangat berfaedah
BalasHapusBlognya sangat bermanfaat
BalasHapusBlognya sangat bermanfaat
BalasHapusTrimakasih infonya
BalasHapusTerbaiklah
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus
BalasHapus